Aku
menyerahkan amplop itu segera setelah menutup pintu mobil. “Cepat, hitunglah!”
dia mengakngkat alis. “Selamat pagi juga,”. Dia menghitungnya dalam waktu
singkat lalu mengangguk puas. “Kawan, aku akan bertanya sekali lagi untuk
memastikan. Apakah kamu 100% yakin mau melakukan ini?”
“Tentu
saja. Aku sudah merencanakan ini jauh-jauh hari sebenarnya. Aku tidak sanggup
hidup dengannya lagi. Dia dingin, penekan, pengatur, tetapi aku tidak dapat
kehilangan dia juga karena aku akan kehilangan segalanya. Aku lebih baik
terbakar di neraka.”
Dia
menyatukan jari-jarinya. “Baiklah, baiklah. Aku hanya ingin memastikan. Karena
jika ini sudah terjadi, tidak akan dapat kembali seperti semula lagi,”
“Aku
tahu apa yang kau bicarakan.”
“Dan
anda tidak bisa melakukan hal ini sendiri untuk diri anda?”
“Saya
pernah mencobanya, tetapi saya kehilangan keberanian.”
Dia
mengangkat bahu. “Baiklah kalau begitu. Mari kita ulangi lagi rencananya. Anda
dan istri anda makan malam jam enam tepat. Saya memencet bel tepat jam enam
lebih lima menit. Pintu terbuka. Kemudian satu tembakan di kepala, gaya
esekusi.”
“Ya
silahkan, lakukan dengan cepat dan tepat, ya. Aku berharap itu tidak
menyakitkan,” bisikku. “Ini kemauanmu sendiri,” hiburnya. Lalu kami berjabat
tangan.
Aku
dan istriku sedang makan malam dalam keheningan yang menyiksa seperti biasa.
Hanya ada suara sendok dan garpu yang terdengar. Aku terlonjak dengan perasaan
lega yang aneh ketika bel berbunyi. Istriku bangkit dari duduk untuk membuka
pintu. Aku menghentikannya dengan wajah pucat,
“Sudahlah,”
aku menelan ludah saat melirik jam tanganku yang menunjukkan jam 18.05. “Aku
saja yang membukanya.”